1,094 hasil
-
-
12 Tahun Korban Konflik Aceh Menanti Kebenaran, Keadilan dan Reparasi Penuh
-
Hentikan Intimidasi terhadap Partisipan Acara Terkait Pelanggaran HAM 1965
-
Pihak Berwenang Harus Menginvestigasi Penggunaan Kekuatan Mematikan oleh Aparat Kepolisian di Deiyai
-
Pasukan Israel kembali Menyerang Kerumunan Damai di Situs Suci Yerusalem
-
Dampak Buruk Pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sebagai Ekses dari Perpu No. 2 Tahun 2017 tentang Organisasi Sipil Kemasyarakatan
-
Aksi Kamisan ke-500: Menuntut Tanggung Jawab Negara atas Kejahatan HAM Masa Lalu
-
Serbuan Tentara Israel ke Rumah Sakit Palestina merupakan Bentuk Unjuk Kekuatan yang Kejam
-
Jokowi Menciptakan Alat Represi
-
Indonesia: Peraturan Baru Organisasi Kemasyarakatan Memperbesar Ancaman terhadap Kebebasan Berserikat
-
BERITA: Direktur Amnesty International Turki harus dibebaskan dari penahanan incommunicado
-
Sudan Selatan: Kekejaman yang terus berlanjut mengubah sumber penghidupan Negara menjadi lahan pembantaian
Dalam insiden lain, sembilan penduduk desa menghilang setelah dibawa oleh tentara dari sebuah barak di dekat Gimunu, 13 kilometer di luar kota Yei, pada 21 Mei 2017. Sebuah penyelidikan polisi menemukan mayat-mayat tersebut pada tanggal sembilan Juni hingga pertengahan Juni. Korban diyakini telah dipotong-potong sampai mati dengan parang. Tidak ada yang dimintai pertanggungjawaban, yang tampaknya adalah hal biasa ketika polisi mencoba menyelidiki kasus tentara yang membunuh warga sipil.
