Cerita Stella Monica, Penyintas UU ITE

Stella Monica dituntut satu tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum dan dituduh melanggar Pasal 27 ayat (3) UU ITE karena mengunggah keluhannya pada 27 Desember 2019 tentang iritasi kulit yang ia alami setelah melakukan perawatan di sebuah klinik kecantikan di Surabaya. Klinik kecantikan tempat Stella berobat merasa namanya telah dicemarkan dan melaporkan Stella ke pihak berwenang. Klinik tersebut menuduh Stella telah melakukan pencemaran nama baik mereka dan melanggar UU ITE.

Saat pertama kali membahas kasusnya dengan polisi, polisi merespons bahwa ini hanya masalah kecil dan sebaiknya Stella dan klinik kecantikan tersebut “damai” saja. Namun ternyata, proses terus berlanjut hingga akhirnya Stella dijadikan tersangka.

Sejak saat itu, Stella harus melewati proses yang panjang, salah satunya termasuk juga mendapatkan perlakuan buruk dari Kejaksaan Agung. Stella mengaku, pada saat itu Jaksa langsung menuduh dan menghakimi bahwa Stella bersalah tanpa adanya proses penyidikan apapun. Selain itu, Jaksa juga membuka handphone Stella tanpa adanya izin darinya.  Namun akhirnya, pada 14 Desember 2021 Stella Monica divonis bebas oleh majelis hakim dalam persidangan di Pengadilan Negeri Surabaya, Jawa Timur. 

Akibat dari proses pencarian keadilan yang panjang dan menyakitkan, terdapat beberapa dampak emosional yang Stella alami. Saat pertama kali Stella mendengar bahwa ia menjadi tersangka, Stella sempat merasa ingin bunuh diri. Selain itu, beberapa dampak lainnya adalah mood swing selama hampir 2 tahun, mudah marah karena efek stres, dan seringkali merasa sedih dan linglung. Karena kasusnya viral, Stella juga menjadi takut saat pergi ke ruang publik, seperti mall dan bahkan gereja. Stella merasa saat sedang berada di ruang publik, Stella takut orang-orang akan membicarakannya, “Itu Stella yang kena ITE ya?” 

Stella merasa sekarang UU ITE justru digunakan untuk mengancam dan mengintimidasi individu, terutama dengan menggunakan pasal pencemaran nama baik. Stella mengusulkan agar sebaiknya UU ITE direvisi total dan sebaiknya pasal pencemaran nama baik dihapuskan saja. 

Stella berharap, untuk para pemiliki usaha yang dikritik oleh konsumen, sebaiknya dapat menggunakan kritik itu untuk memperbaiki diri dan bukannya menggunakan UU ITE untuk mengancam dan mengintimidasi konsumen. Lalu Stella memberi pesan bagi para konsumen, untuk jangan takut mengutarakan pendapat, karena konsumen mempunyai hak untuk berbicara. 

Ini wawancara Amnesty International Indonesia dengan Stella Monica mengenai pengalaman dan proses yang berlangsung selama Stella Monica berjuang melawan pasal karet UU ITE.

Interviewer: Saat Kakak dulu pertama mengunggah tentang pengalaman Kakak di klinik kecantikan itu di Instagram story, apakah Kakak ada rasa khawatir bahwa nanti akan diserang balik bahkan sampai dilaporkan ke polisi oleh pihak kliniknya?

Stella Monica: Kalau dari aku nggak sih Kak, karena aku merasa pernah berobat disana jadi aku punya hak untuk ngomong. Aku udah tau UU ITE dari lama banget, cuma hanya sepintas tau aja kaya ah apaan sih lapor pake UU ITE nggak penting. Aku berharap dengan aku memberi review klinik itu bisa mencari aku, istilahnya ‘Stella ada yang bisa kita bantu, kenapa wajahmu?’ Aku berekspektasi seperti itu, makanya aku berani.

Tapi dalam konteks dari dulu sosial mediaku dari dulu nggak pernah open for public. Dulu pernah ada kejadian nggak mengenakan karena open for public, akhirnya ku kunci aja, jadi yang menyaksikan juga followersku gitu kan. Eh tapi ternyata ada orang jahat yang lapor, istilahnya ya cepu ya, ya udah dia ngelapor. Nggak ada khawatir tuh nggak ada, sampai punya pikiran dilaporin polisi nggak ada.

Karena aku ngerasa waktu itu ah UU ITE nggak penting sih, toh aku nggak bakal kena, aku merasa seperti itu. Eh ternyata kenanya di aku… ya sudah deh…”

Interviewer: Jadi Kak Stella juga udah familiar juga ya dengan UU ITE dan nggak nyangka sama sekali ya bakal kena UU ITE. Saat Kakak dilaporkan dan dituduh melanggar UU ITE, Kakak pernah nggak sih mendapat ancaman atau pun intimidasi dari pihak pelapor atau pihak-pihak lain dari sisi pelapor?

Stella Monica: Sering. Aku ngomong apa adanya aja sih ya kak. Ketika sebelum di persidangan kan di Kepolisian dulu sebelum di Kejaksaan tuh, intinya polisi bilang ini masalah kecil, bisa nggak damai aja. Kita kan sebagai orang awam ya bilang gini ke penyidik “Ya bapak bantu dong, masa nggak bisa sih dibantu” tapi ya sudah aku diberi tahu teman “Kamu nggak usah berharap banyak lah Stel, soalnya kok kayaknya bakal lanjut”. Aku juga berharapnya stop kan, eh ternyata sampai dijadikan tersangka.

Aku udah nangis, kaya mau bunuh diri rasanya. Sumpah dalam seumur hidup aku nggak pernah kena kasus hukum, paling parah kena tilang itu pun cuma dua/tiga kali, bisa dihitung tangan. Dari situ akhirnya ke Kejaksaan, di Kejaksaan itu aku langsung dituduh sih “Kamu tuh salah, kamu udah bikin kerugian ratusan juta! Kok kamu nggak minta maaf aja sih. Kamu kan kalau minta maaf nggak perlu sampai ke Kejaksaan, nggak perlu sampai blunder gini”. Aku cuma ngerasa gini sih, kok kamu bisa-bisanya langsung menghakimi aku yang salah. Itu ya aneh, harusnya kamu netral dulu dong.

Aku akhirnya membantah sih, aku bilang “Bu kalau ngomong itu ya dipikir dulu. Dibalik deh posisinya, kalau Ibu jadi saya gimana?” terus intinya dia bilang tetep salah, ya sudah. Nah dari situ ada aja pihak-pihak yang berusaha merasuki pikiran kita, ya kaya cari panggung lah. Ada yang bilang gini “Stel, kamu tuh kalau mau damai aja sama mereka deh, masuk koran… ya paling hukumanmu cuma 3 bulan penjara lah… kalo mau… dan sidangmu nggak akan selama yang kamu pikirin, sidang tuh bisa sampe satu tahun tuh bisa loh Stel, UU ITE tuh lama banget, udah damai aja” Aku kaget sih, hah apaan sih aku tuh nggak ngerasa salah gitu kan, aku bilang kalau aku misalnya di-endorse aku koar-koar di sosmed itu aku salah, karena anggepannya endorse pun ada kontraknya kan, lah aku loh pasien aku bayar lunas pakai kartu debitku semua.

Ada juga yang bilang “Nggak mungkin lah kamu bebas, aku tuh udah tau kamu akan dijatuhin hukuman berapa lama” ada yang kaya gitu itu banyak banget Kak. Ada yang bilang “Wah kamu kaya gini pasti kalah sih” Kalau viral ya bisa bikin beberapa pihak kasian ke aku, cuma ya gimana ya kalau si klinik itu power-nya kuat. Ya itu bener-bener moodku tuh kaya mood swing banget sih selama hampir 2 tahun itu, naik [BS1] turun naik turun karena terpengaruh omongan seperti itu dan juga keluarga ku juga kaya dipengaruhi, terus ada yang bilang “Udah lah kamu minta maaf aja lah, aku kenal kok sama yang klinik tuh kenal kok aku, bilangin kalau bisa jangan kebacut deh dengan hukumannya” Aku sampai mikir gini sih, apa sih maksudnya, kan ini belum dijalanin ya, kok bisa-bisanya ngomong aku harus minta maaf langsung supaya selesai semua. Itu pun sempat sih dari pihak sana menawarkan damai, aku harus ngaku di media, minta maaf ya nanti sama dia bisa dinegosiasikan. Intinya seperti itu sih kak.

Aku cuma nggak habis pikir sih kaya, lo kok gila sih bisa kaya gitu banget, istilahnya, lo gila apa mau menjarain anak orang segitu ambisinya tuh kenapa padahal aku bukan artis kan, bukan influencer, kaya kamu kenapa segitunya mau menjarain aku tuh pasti there’s something wrong with them. Aku sampai mikir aja, teman-temanku juga bingung sih hah kamu loh bukan siapa-siapa sih, aku juga bukan sosialita, ya ngapain kan dia sampai se-kekeh itu mau masukin aku ke penjara. Itu sih… aku cuma nggak habis pikir aja sih waktu itu kak.

Interviewer: Serem juga ya kak, bahkan aku kaget dari Kejaksaan juga langsung frontal seperti itu ya. Itu waktu di Kejaksaan hanya kakak dengan jaksanya atau sama pihak pelapor juga?

Stella Monica: Nggak ada, jadi pihak pelapor H-7 sudah di-briefing sama Jaksa. Ketika waktu giliranku aku ditemenin sama pengacaraku 1 orang, waktu itu dateng baru duduk disuruh isi kertas warna pink (nama, identitas, alamat, tipe HP (handphone), dan nama Instagram), “terus tiba-tiba jaksa ngomong “Kamu tuh nggak ngerasa salah ta Stella?” sambil dia buka HP aku gitu, aku merasa loh itu ya termasuk privasi ku kenapa sih kok kamu buka-buka di depanku. Oke lah kamu mencari bukti ya terserah kamu. Tapi satu hal yang aku sangat jengkel, mereka buka galeri HP-ku, melihat foto-foto gitu sih di depanku”.

Aku bingung sih, aku akhirnya khawatir ya pasti punya pikiran buruk ini kok malah buka-buka galeriku. Misalnya kalau profesional ya ayo dong buka aja intinya Instagram aja sudah, nggak usah kemana-mana. Aku masih ingat sih Kak intinya apa yang diucapkan sama dua jaksa itu intinya mereka secara nggak langsung suruh aku ngaku salah gitu dari awal.

Interviewer: Tadi Kakak juga sempat mention ada anggota keluarga juga yang dapat ancaman atau intimidasi gitu ya Kak, jadi nggak cuma Kakak.

Stella Monica: Iya nggak cuma aku, banyak kok, adekku dapet, mama papa juga dapet.

Interviewer: Kalau dengan ancaman dan intimidasi itu dari sepengamatan Kakak ada nggak sih yang kira-kira nih berbasis gender gitu? Misalnya karena Kakak perempuan juga, jadi makin direndahkan atau disepelekan gitu.


X