Yusman Telaumbanua, seorang pemuda asal Nias, Sumatera Utara, dijatuhi pidana mati atas tuduhan melakukan pembunuhan berencana. Namun, ada yang janggal dari putusan pengadilan. Baik jaksa ataupun hakim gagal menyadari bahwa Yusman, yang tidak cakap berbahasa Indonesia, belum genap 18 tahun ketika pembunuhan terjadi. Hukum di Indonesia mengatur anak di bawah umur tidak boleh dijatuhi pidana mati. 


Ternyata, selama diperiksa oleh kepolisian, Yusman dipukuli dan dipaksa mengaku berumur 19 tahun. Di persidangan, Yusman didampingi pengacara yang justru memintanya dihukum mati. Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan yang belakangan mengetahui hal ini, mengambil peran sebagai penasihat hukum Yusman. Melalui penelitian forensik gigi, tim kuasa hukum berhasil membuktikan bahwa Yusman masih di bawah umur ketika pembunuhan terjadi. Bukti baru ini membuat Mahkamah Agung mengubah vonis hukuman mati terhadap Yusman. Tepat pada 17 Agustus 2018, Yusman bebas setelah dipenjara lima tahun.

Kasus Yusman, contoh buruknya kualitas peradilan di Indonesia. 

Hak terdakwa atas peradilan yang adil (fair trial rights) sengaja dilanggar untuk memastikan Yusman dihukum berat. Padahal, jika Yusman dipidana mati, maka tidak ada lagi ruang perbaikan. Harapan untuk menjadi orang yang lebih baik dan berguna bagi masyarakat direnggut selamanya. Banyaknya cacat dalam proses peradilan, ditambah semangat aparat untuk menghukum mati, menggerus keadilan baik bagi korban dan terdakwa itu sendiri. Jika hukuman mati tetap diterapkan dengan peradilan sesat, maka banyak nyawa tidak bersalah seperti Yusman akan menjadi korbannya. Lantas, di mana keadilan?

Mengapa kita harus menuntut penghapusan hukuman mati sekarang?

Dibatalkannya hukuman mati untuk Yusman menjadi batu pijakan bagi kita meminta pemerintah Indonesia untuk segera menghapuskan hukuman mati, setelah pemerintah menerapkan moratorium.

Kamu bisa membantu menghapus hukuman mati!

Yuk, beri tahu  Presiden Joko Widodo bahwa kita mengapresiasi langkah pemerintah untuk tidak melanjutkan eksekusi mati sejak Juli 2016. Namun sudah saatnya kita bergabung dengan dunia internasional yang lantang menolak hukuman yang tidak manusiawi tersebut!

Caranya mudah!

  1. Tulis desakan kamu kepada pihak berwenang. Kamu bisa mengikuti contoh teks yang kami sediakan atau menulis sendiri sesuai keinginanmu.
  2. Pilihan lainnya, kamu juga bisa cetak dan tandatangani kartu pos yang kami sediakan.
  3. Kirim tulisan atau hasil scan kartupos ke info@amnesty.id dengan subjek “PENA: (Nama Lengkap)”.
  4. Pilihan lainnya, kamu bisa kirim kartu pos dan surat via pos ke alamat kantor kami.
  5. Kamu bisa menulis surat untuk beberapa kasus sekaligus, tanpa batasan. Bahkan kamu juga bisa menulis di luar isu yang kami tawarkan. Semuanya akan kami sampaikan ke pihak berwenang!
  6. Tenggat pengiriman surat, email atau kartu pos adalah Jumat 8 November 2019, pukul. 17.00 WIB.