Sudah dua tahun lebih berlalu
sejak Novel disiram air keras
dan pelakunya masih belum ditangkap!
Pada konferensi pers 17 Juli 2019, tim pakar Polri terbukti gagal mengungkap pelaku penyerangan.


Apa arti penting kasus Novel Baswedan terhadap perlindungan pembela HAM? 

Serangan yang menimpa Novel hanyalah puncak gunung es dari kriminalisasi dan intimidasi terhadap pejuang HAM lainnya. Sayangnya, kebanyakan kasus semacam ini dibiarkan mangkrak tanpa ada yang bertanggung jawab. Misalnya, sudah 15 tahun berlalu sejak pejuang HAM, Munir Said Thalib, tewas dibunuh. Namun dalang di balik kasus itu hingga kini belum juga terkuak dan diproses hukum. 

Mengapa tantangan yang dihadapi para pejuang HAM ini merupakan urusan kita bersama?

Ketika pembela HAM dibungkam dengan pembunuhan, kekerasan dan instrumen hukum, upaya mereka meraih keadilan dan memenuhi hak-hak rakyat akan terhambat. Para penindas mendapat pesan bahwa mereka dapat melakukan apapun untuk membungkam mereka tanpa konsekuensi. Sementara itu, tiadanya pertanggunjawaban atau impunitas akan menggentarkan orang-orang yang ingin membela hak mereka atau orang lain yang mengalami perlakuan serupa.  

Mengapa sekarang momentum yang pas untuk menuntut keadilan bagi Novel Baswedan?

“Kalau Kapolri sampaikan meminta waktu enam bulan, saya sampaikan tiga bulan tim teknis harus bisa menyelesaikan apa yang kemarin diselesaikan,” demikian janji Presiden Jokowi kepada wartawan di Istana Negara pada tanggal 19 Juli 2019.

Dukungan publik yang besar untuk kampanye Novel hingga saat ini dan pernyataan presiden pada 19 Juli memberi kita kesempatan langka untuk mengawal penyelesaian kasus ini dalam waktu dekat. Investigasi dan proses keadilan untuk kasus Novel Baswedan berpotensi besar untuk memberi imbas positif terhadap kasus-kasus serupa. 

Tindakan kita semakin urgen mengingat posisi KPK sekarang semakin terancam dengan terpilihnya pimpinan baru yang integritasnya diragukan.  

Kamu bisa mendesak perubahan!

Yuk, tulis surat mendesak Presiden Jokowi untuk segera menuntaskan kasus Novel Baswedan dengan membentuk TGPF yang langsung melapor kepada presiden. 

Caranya mudah!

  1. Tulis desakan kamu kepada pihak berwenang. Kamu bisa mengikuti contoh teks yang kami sediakan atau menulis sendiri sesuai keinginanmu.
  2. Pilihan lainnya, kamu juga bisa cetak dan tandatangani kartu pos yang kami sediakan.
  3. Kirim tulisan atau hasil scan kartupos ke info@amnesty.id dengan subjek “PENA: (Nama Lengkap)”.
  4. Pilihan lainnya, kamu bisa kirim kartu pos dan surat via pos ke alamat kantor kami.
  5. Kamu bisa menulis surat untuk beberapa kasus sekaligus, tanpa batasan. Bahkan kamu juga bisa menulis di luar isu yang kami tawarkan. Semuanya akan kami sampaikan ke pihak yang berwenang!
  6. Tenggat pengiriman surat, email atau kartu pos adalah Jumat 8 November 2019, pukul. 17.00 WIB.