Laporan ini telah dibuat selama dua tahun—sejak tahun 2016—dan merupakan analisa komprehensif mengenai pembunuhan di luar hukum oleh aparat keamanan di Papua, Indonesia, selama delapan tahun terakhir, sejak Januari 2010 sampai Februari 2018.

Temuan dalam laporan ini memiliki kelebihan dalam mengungkap pelanggaran HAM yang terjadi di Papua dan diluncurkan segera setelah laporan ini diselesaikan. Konsiderasi utama kami memang bukan pada waktu, namun cara terbaik dalam mengungkapkan pesan yang ingin kami sampaikan kepada komunitas internasional.

Melalui perjalanan pembuatan laporan ini, Amnesty International menemukan bahwa 95 orang di 65 kasus merupakan korban pembunuhan di luar hukum oleh aparat kepolisan dan militer di Papua. Tidak ada penanggungjawaban dari pembunuhan-pembunuhan tersebut karena tidak adanya penyelidikan independen. Hak atas hidup merupakan prinsip HAM mendasar dan aparat keamanan telah melanggarnya dengan kecepatan hampir sebulan sekali. Tanpa perubahan drastis, sulit untuk melihat akhir dari situasi ini.

Sebagian besar kasus pembunuhan di luar hukum berlangsung di luar konteks non-politik. Banyak yang terjadi saat aparat keamanan berusaha untuk menangani protes damai, gangguan publik, atau menangkap tersangka.

Namun, kami juga menemukan beberapa kasus dimana aparat keamanan melakukan pembunuhan di luar hukum di beberapa situasi yang berbau politik. Kasus-kasus ini berhubungan dengan protes politik yang dilakukan dengan damai, terutama saat pelaksanaan pengibaran bendera atau perkumpulan agama telah menarik banyak orang, termasuk aktivis pro-kemerdekaan Papua.


Linimasa Historis Papua tahun 1945-2015

 © Amnesty International

Kasus dan Korban Pembunuhan di Luar Hukum di Papua

© Amnesty International

Kronologi Pelanggaran HAM di Papua

PENEMBAKAN AIMAS

Pada 30 April 2013, sekelompok aktivis Papua yang dipimpin oleh Isak Kalaibin, seorang anggota kelompok pro-kemerdekaan, berkumpul untuk melaksanakan ibadah malam dan mempersiapkan hari Peringatan 50 Tahun Penyerahan Kembali Papua ke Indonesia berdasarkan pada Kesepakatan New York yang akan dirayakan keesokan harinya. Sekitar pukul 9 malam, anggota kepolisian dan militer mendekati rumah tempat berkumpul dengan mengendarai empat buah mobil. Tiba-tiba, aparat keamanan melepaskan tembakan tanpa peringatan terlebih dahulu ke arah kerumunan dan area perumahan. Abner Malagawak dan Thomas Blesia terbunuh di tempat sementara Salomina Kalaibin, saudara perempuan Isak Kalaibin, meninggal dunia pada 6 Mei 2013 akibat luka tembak di perut dan bahu.

PEMBUNUHAN IRWAN W.

Sekitar jam 10 pagi pada tanggal 8 Agustus 2013, Irwan Wenda, remaja Papua berusia 21 tahun dengan disabilitas mental, meninggalkan rumahnya dan berjalan ke arah pasar Wouma di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua. Sempat beradu argumen dengan seorang polisi, Irwan Wenda memukul polisi tersebut dengan menggunakan tebu. Polisi tersebut lekas masuk ke dalam kediamannya dan kembali membawa senjata. Tanpa peringatan, polisi tersebut menembak Irwan Wenda sebanyak tiga kali ke arah kaki kiri, perut dan kepala dari jarak 2 meter.

PENEMBAKAN PEKERJA FREEPORT

Pada Oktober 2011 di kota Timika, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, sekitar 8.000 buruh melakukan protes terhadap PT. Freeport Indonesia, menuntut kenaikan upah. Para buruh mencoba menerobos masuk, bergerak menuju blokade polisi. Tiba-tiba, seorang saksi bercerita kepada Amnesty International, bahwa Kapolres Timika, pimpinan aparat polisi yang hadir di tempat kejadian, melepaskan tembakan peringatan sambil berteriak, “Tembak, tembak.” Aparat berseragam dan berpakaian preman melepaskan tembakan ke arah kerumunan. Petrus Ayamiseba tertembak di bagian dada dan meninggal beberapa jam kemudian saat dalam perjalanan ke rumah sakit. Menurut saksi, Leo Wandagau tertembak peluru karet di bagian punggung dan meninggal 5 hari kemudian di kediamannya.

PENEMBAKAN ISMAIL LOKOBAL

Pada 4 Oktober 2010, sekitar 100 anggota kepolisian yang dipimpin oleh Kapolres Kabupaten Jayawijaya mendatangi kantor PETAPA, menunggu hanya 50 meter dari pagar gedung. Segera setelah polisi melewati pagar, beberapa anggota PETAPA yang berada di dalam gedung menghujani mereka dengan batu. Sebuah batu mengenai Kapolres di bagian mulut dan mematahkan beberapa giginya. Polisi merespon dengan menembak ke arah gedung tanpa peringatan. Ismail Lokobal tertembak dan tewas dalam kejadian itu.

SERANGAN HONELAMA

Siang hari tanggal 6 Juni 2012, satu dari dua orang tentara yang sedang mengendarai sepeda motor dikabarkan menabrak dan mencederai seorang anak berusia 3 tahun yang sedang menyebrang jalan di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua. Seorang saksi mengejar tentara-tentara tersebut dan menghentikan mereka. Seorang laki-laki bergabung di tengah kerumunan dan menusuk kedua tentara tersebut sebelum ia melarikan diri, menyebabkan satu tentara mati dan satu lagi terluka. Warga setempat tidak mengenali pelaku penusukan tersebut. Tidak lama kemudian dua truk penuh tentara dari Infantri Batalion 756/Wamena datang dan melakukan penembakan yang disengaja ke arah pedesaan, menyebabkan satu orang terbunuh dan warga lain luka-luka.

PENEMBAKAN PANIAI

Pagi hari di tanggal 8 Desember 2014, ratusan demonstran Papua berkumpul di dekat markas militer dan kantor polisi setempat di kota Enarotali, Kabupaten Paniai, Provinsi Papua. Demonstrasi tersebut merupakan respon atas dugaan pemukulan 11 remaja Papua oleh anggota militer sehari sebelumnya. Ketika demonstran melempari batu dan potongan kayu ke gedung, aparat keamanan melepaskan tembakan ke arah kerumunan, menewaskan empat orang. Setidaknya 11 orang lain mengalami cedera akibat peluru atau bayonet.

PENEMBAKAN HUBERTUS MABEL

Pada 16 Desember 2012, Hubertus Mabel ditembak oleh seorang polisi di Wamena. Ia sempat dibawa ke rumah sakit terdekat namun meninggal dunia dalam perjalanan.

Kongres Rakyat Papua III sesaat sebelum ricuh di Lapangan Zakeus, Padang Bulan, Abepura, Jayapura, Papua, Rabu, 19 Oktober 2011. [TEMPO/STR/Jerry Omona; JOM2011101904]

KONGRES RAKYAT PAPUA 3 (KRP III)

Pada tanggal 17-19 Oktober 2011, koalisi aktivis-aktivis Papua menyelenggarakan sebuah pertemuan politik di lapangan di depan sebuah seminari di Abepura, Provinsi Jayapura. Pagi hari di tanggal 19 Oktober, polisi dan militer bersenjata lengkap menghalangi jalan utama dengan tank dan kendaraan lapos baja, serta mengelilingi lapangan tempat Kongres dilaksanakan. Siang itu, dua jam setelah Kongres selesai, unit-unit polisi dan militer mendekati lokasi acara, mayoritas dari mereka menggunakan baju preman. Mereka melepaskan tembakan ke udara untuk membubarkan sekitar 1000 delegasi yang masih berkumpul secara damai, tanpa terlebih dahulu meminta mereka membubarkan diri. Pada tanggal 20 Oktober, warga lokal menemukan jasad Demianus Daniel Kadepa, Yakobus Samonsabara dan Max Asa Yeuw. Yakobus dan Max Asa adalah anggota PETAPA (Penjaga Tanah Papua), yang merupakan panitia penyelenggara Kongres. Kadepa adalah seorang mahasiswa, namun tidak jelas apakah dia terlibat dalam Kongres atau tidak. Menurut Komnas HAM, jasad mereka menunjukkan adanya luka tembak dan bekas pemukulan.

TUNTUT KEADILAN UNTUK KORBAN KASUS PANIAI

dukung petisi
PEMBACAAN LEBIH LANJUT